Roda Nasib = Sinyal Sinusoid


Tahu konsep roda nasib atau roda kehidupan? Katanya hidup manusia itu seperti roda. Roda itu selalu berputar sehingga suatu titik di roda itu kadang-kadang berada di atas, kadang-kadang di bawah. Tapi bagaimana kalau kita proyeksikan titik di roda tersebut di suatu bidang datar? (Mulai deh keluar engineering-nya…) Jadinya begini nih:

Circle to Sine CosineJadi dilihat dari domain waktu, ternyata roda kehidupan itu membentuk sebuah sinyal sinus. Titik puncak sinus adalah masa jaya kehidupan kita dan lembahnya adalah masa sulit kita atau masa sial kita.

Terus sebenarnya mau ngomong apa sih dari topik ini? Gini lho, ingat tidak ketika kita bermain musik, atau bertanding olahraga, atau mengikuti ujian? Kan kita merasakan terkadang berhasil terkadang tidak. Ketika bermusik, terkadang kita bisa bermain dengan bersih, rapih, lengkap dengan solo-solonya. Terkadang permainan kita berantakan, solonya jelek, bahkan kunci yang mudah pun salah dimainkan. Jika dilihat, memang benar sesuai dengan fungsi sinus itu. Terkadang kemampuan musik kita di atas, terkadang di bawah.

Namun, mengapa para musisi profesional sepertinya tidak pernah berada di lembah sinus lagi ya? Mereka selalu bermain dengan sempurna.  Inilah jawabannya: Tambahkan bias atau komponen DC di sinyal sinus Anda. (Maksudnya???)

Begini, pada sinyal sinus murni, titik pada sinyal naik turun pada rentang yang sama, yakni dari +A sampai -A (A adalah amplitudo sinus). Semakin besar nilai minusnya, semakin fatal kesialan kita. Tapi dengan adanya bias atau komponen DC (komponen DC ini istilah teknik elektro untuk tegangan arus searah), kita bisa mengangkat sinyal sinus itu sehingga nilai minus yang dicapai semakin kecil (alhasil, kesialan kita berkurang).

sinpluzbias

Bisa dilihat jika sinus ditambah dengan bias (dalam gambar bias sebesar 0,5), lembah sinus itu menjadi -0,5. Jadi kesialan kita berkurang, yang biasanya kesialan kita mencapai -1, sekarang hanya -0,5 karena adanya bias. Lalu, bagaimana cara menambahkan bias itu? Dengan kerja keras, usaha, latihan, dan ketekunan. Semakin besar usaha kita, semakin tinggi biasnya. Jika kita bermain musik, latihan-latihan musik kita akan menjadi bias. Jika untuk mengerjakan ujian, ketekunan belajar dan latihan soal menjadi biasnya.

Kalau biasnya sudah cukup besar, sinyal sinus itu nanti tidak akan mencapai nilai minus atau kesialan kita sama sekali tidak fatal. Para musisi-musisi profesional mungkin biasnya sudah sangat besar sehingga roda kesialan musik atau sinus musik mereka cuma hanya sebuah ripple kecil (ripple: gelombang dalam grafik lurus).

sinbiazbig

Jadi kalau ingin berhasil (atau setidaknya tidak gagal), kita harus terus belajar, berlatih, bersemedi, dan ber-ber lainnya supaya kita bisa menaikan bias dalam sinyal sinudoid kehidupan kita.

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Roda Nasib = Sinyal Sinusoid

  1. inez says:

    para bgt loe not ampe dibikin matlabnya segala.. ==” niat amt.. hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s