Pardon?


Tadi aku baru saja tes TOEFL iBT. Bagian speaking-nya berantakan sekali. Waktu menjawab pertanyaan, rasanya kalimat yang dibentuk berantakan dan tidak jelas waktu diucapkan. Pasti para pemeriksa tes TOEFL-ku akan berkata, “Huh?” atau “What?” atau “Pardon?” (kalau ada yang ngomong “pardon?”, menurutku dia aneh juga. Soalnya pardon kan biasanya diucapkan waktu sedang mengobrol) atau “Wa..? Hey (memanggil rekannya), can you understand any words he’s saying? This Indonesian guy speaks pretty bad.”

Bagi yang belum tahu, TOEFL iBT (internet-Based Test) adalah jenis baru tes TOEFL. Tes ini tidak seperti tes klasik yang pesertanya menjawab pertanyaan di kertas, tetapi menggunakan komputer. Tesnya pun ada tambahan tes speaking dan writing. Pada tes speaking, peserta diberi bacaan dan atau pembicaraan, kemudian harus menjawab secara lisan sesuai pertanyaan.

Yang membuat susah tes ini adalah (setidaknya bagiku) waktu yang diberikan untuk menyiapkan pertanyaan dan menjawab pertanyaan sangat sempit. Waktu persiapan biasanya hanya 15-20 detik dan waktu menjawab 45-60 detik. Biasanya pertanyaan yang diajukan itu meminta kita untuk menjelaskan kembali bacaan atau hal-hal lain yang membutuhkan penjelasan panjang. Dengan waktu yang tidak sampai 1 menit, susah sekali untuk menjawab dengan lengkap. Belum memikirkan grammar, belum memikirkan urutan menjawab, belum lagi memikirkan inti dari jawaban. Ah….. pusing.

Pada saat membaca bacaan atau mendengarkan pembicaraan, kita memang boleh untuk menulis sebuah catatan-catatan. Catatan-catatan ini memang penting, tetapi susah sekali untuk dilakukan terutama oleh orang-orang bertipe visual, termasuk diriku. Orang tipe visual lebih terbiasa membaca dan mendengarkan tanpa menulis. Mereka tidak bisa mencatat sambil membacan dan mendengarkan. Bukannya lebih baik, malah banyak hal-hal yang terlewat karena konsentrasinya terpecah.

Stress deh… Dapat berapakah nanti nilai TOEFL-ku???

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pardon?

  1. inez says:

    lha bukannya org visual tu justru yg harus sambil dengar sambil catet ya biar lebi inget? klo yg cm bs dnger ga bs sambil catet tu yg pendengaran [apatunamanya] bukan? *sotoy*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s