Dream Log: Badai Petir


Rabu, 24 Juni 2009, 00.00 – 07.00 WIB

Diawali dengan saya sedang berlari mencari tempat bersembunyi. Tidak tahu alasannya, pokoknya saya merasa sedang dicari-cari orang dan harus cepat mencari tempat bersembunyi.

Akhirnya saya masuk ke dalam suatu gedung. Di dalam gedung tersebut terdapat kolam-kolam berbentuk bundar yang berderetan. Saya memutuskan untuk bersembunyi di dalam kolam itu. Kolam itu cukup dangkal, sepaha orang dewasa kira-kira dalamnya. Saya membenamkan diri di dalam kolam, tetapi kepala saya tetap di atas air.  Di dalam gedung itu gelap, jadi dengan saya berdiam diri di kolam saya berharap tidak ada yang melihat. Namun, tiba-tiba masuklah beberapa orang ke dalam gedung.

Saya menurunkan kepala di serendah mungkin, tetapi hidung tetap berada di atas air. Saya berusaha untuk tidak bergerak agar permukaan air tidak banyak bergerak. Orang-orang tadi terlihat berkeliling mencari-cari. Lalu ada satu orang yang menceburkan diri di kolam tempat saya berada. Dia berjalan menyusuri kolam sambil merentangkan tangannya meraba-raba ke depan. Sepertinya dia tidak bisa melihat dengan baik di sini. Dia tidak bisa melihat saya. Dia terus berjalan sambil meraba-raba ke depan. Ketika dia mulai mendekati saya, saya bergerak menjauh secara perlahan. Lalu, satu orang lain lagi ikut masuk ke kolam. Dia tidak berjalan, tetapi hanya membuat ombak di kolam itu. Saya tetap diam di dalam kolam. Pada akhirnya, mereka semua pergi. Namun, lampu di dalam gedung dinyalakan dan banyak orang masuk ke dalam gedung.

Orang-orang ini sepertinya datang untuk menyaksikan suatu pertunjukan. Mereka mengelilingi kolam-kolam di dalam gedung itu dan ada satu orang yang masuk ke dalam setiap kolam. Ia sepertinya memimpin acara di setiap kolam itu. Ternyata acara ini adalah sebuah kompetisi berkelahi. Dua orang masuk ke dalam kolam tempat saya bersembunyi. Entah kenapa orang-orang tidak ada yang sadar kalau saya ada di kolam juga. Semuanya seakan-akan tidak dapat melihat saya. Saya melihat kedua orang itu mulai berkelahi. Mereka saling tinju dan saling tendang, mirip thai-boxing. Beberapa saat kemudian, saya memutuskan untuk keluar dari kolam.

Saya langsung berdiri dan lari keluar dari kolam. Beberapa orang menoleh melihat ke arah saya. Begitu keluar dari kolam, saya langsung berlari dan belok masuk ke WC. Dari WC saya mengintip ke belakang. Saya melihat ada dua orang dengan badan tegap dan wajah serius berjalan kemari. Saya masuk ke dalam WC dan berdiri di depan wastafel berpura-pura mencuci tangan. Kedua orang itu masuk ke dalam WC dan melewati saya. Ternyata mereka menangkap orang lain, bukan saya. Saya merasa cukup lega. Setelah mereka keluar, saya keluar dari WC. Di depan pintu WC saya melihat satu orang berjalan mendekati saya. Saya langsung memalingkan badan dan ia pun melewati saya. Ia masuk ke dalam WC. Saya merasa lega kembali. Ketika saya akan berjalan, datang lagi satu orang. Saya mengenali orang ini, ia si Rofi. Pikir saya, “Wah, dia pasti mengenali saya. Pasti dia akan ke sini.” Dan benar sekali ia mendatangi saya. Ia berkata, “Not, mau nge-band ga?”

“Ha?”

“Nge-band.  Mau ga? Kita mau main lagu Guns ‘n’ Roses nih.”

“Oh, iya iya. Boleh.”

“Ok, sip. Thanks ya.”

Lalu entah kenapa Yosia ada di situ. Saya berkata kepadanya, “Wah, kalau lagi beruntung begini, harus cepat pulang. Nanti keburu dapat sial.” Akhirnya saya pergi keluar ke tempat parkir. Di tempat parkir, saya menyalakan motor saya dan melihat bahwa cuaca mendung, sepertinya akan hujan. Saya mulai bergerak menuju rumah.

Ketika sudah hampir sampai, di JL Flamboyan,  saya melihat langit di depan saya memiliki awan yang berputar spiral. Di tengah-tengahnya terdapat seperti cahaya, lebih terang daripada awan di sekitarnya. Awan-awan sekitarnya terus memutari cahaya itu searah jarum jam. Lalu setelah berputar beberapa lama, sepertinya terdapat dua macam awan di kanan kirinya. Kedua awan itu tiba-tiba bersatu dan timbul percikan listrik. Awan-awan tadi membentuk suatu awan baru yang lebih gelap dan banyak petir bersambaran di dalamnya serta keluar darinya. Saya mempercepat motor saya yang sekarang tiba-tiba sudah berubah menjadi sepeda (Aneh kan? Namanya juga mimpi).

Melihat sepeda saya yang terbuat dari besi, saya takut akan disambar petir. Saya mengayuh secepat mungkin agar cepat sampai di rumah. Ketika sampai di perempatan, saya harus belok ke kiri untuk ke jalan rumah saya. Namun, petir menyambar ke tanah dan saya terpaksa harus berjalan lurus. Akhirnya saya harus memutari satu blok untuk mencapai rumah saya. Sepanjang perjalanan saya merasa khawatir akan disambar petir.  Saya terus mengayuh sepeda saya dan akhirnya sudah sampai di dekat rumah. Saya langsung turun dari sepeda dan menentengnya. Sesampainya di gerbang rumah, saya lempar sepeda saya ke dalam dan saya masuk ke dalam rumah.

Begitulah mimpi kali ini. Cukup aneh, bukan?

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Dream Log: Badai Petir

  1. inez says:

    hahahahahahaha *lg2 loe sukses ngbikin gw ngakak not*

    ini ky gabungan crank + transformers deh. trus yg band itu mgkn karna loe lg inget2nya GNR mknya jd bgitu. wkwkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s