Politik Kos


Tadi pagi, sekali lagi saya dikira mau pindah dari kos oleh si opa yang punya kos. Si oma dan opa pemilik kos ini semangat sekali mengusir anak-anak kos di tempat saya dan sudah berhasil 80%. Cara mengusir mereka benar-benar licik dan oportunis sehingga sulit dipercaya untuk dilakukan oleh orang-orang yang sudah lanjut usia seperti mereka.

Dahulu kos ini penuh terisi oleh 9 orang. Sebagian besar adalah mahasiswa angkatan 2006 dan 2007, dan sisanya mahasiswa angkatan 2004 dan 2005 termasuk saya. Semua angkatan 2006 dan 2007 sudah minggat dari kos beberapa bulan lalu. Sedangkan kami-kami yang angkatan “dua ribu tua”, sudah kepalang tanggung mau pindah kos karena sebentar lagi juga lulus kuliah.

Pemilik kos ini adalah seorang oma opa. Putranya yang sudah berkeluarga tinggal bersama mereka. Putranya ini sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Sejak adanya 2 anak kecil inilah si oma dan opa memutuskan untuk tidak lagi menyewakan kamar kos. Mereka ingin merombak tempat kos untuk digabungkan dengan rumah mereka (rumah mereka terletak di sebelah tempat kos) supaya cucu-cucu mereka punya tempat yang luas untuk bermain. Muncullah dekrit pertama dari si oma. Si oma pada suatu hari berkata pada salah satu penghuni kos, “Kos ini sudah tidak menerima penghuni baru lagi. Kalianlah penghuni terakhir. Jadi yang mahasiswa angkatan 2007 masih bisa tetap tinggal di kos sampai lulus kuliah.”

Kami berpikir, “Ya sudah. Tak apa-apa kalau kita masih bisa tinggal di sini. Toh tempatnya asri, kamarnya luas, dan dapat nasi gratis setiap hari (ya, kita boleh mengambil nasi di dapur si oma).” Tetapi sejak saat itu, munculah tindakan-tindakan “mengusir” dari si oma.

Diawali dengan naiknya uang kos. Pas naik sih memang sedang masa resesi, jadi saya maklum kalau ada kenaikan uang kos. Tetapi beberapa bulan kemudian, uang kos naik lagi tanpa alasan yang jelas. Padahal ekonomi lagi stabil, harga minyak juga tidak naik. Menyebalkan. Lalu usaha si oma tidak sampai di situ saja, sekarang dia menggunakan senjata biologis. Aqua galon dan dispenser sudah disediakan di kos ini untuk kami nikmati. Kalau airnya habis, tinggal minta digantikan oleh staff kos. Tetapi alangkah kejamnya, si oma tidak lagi menyediakan air aqua asli untuk disediakan untuk kami. Dia menyuruh staff-nya untuk mengisi botol galonnya dengan air ledeng yang sudah dimasak. Mungkin seharusnya sih tidak apa-apa ya meminum air ledeng yang sudah dimasak terlebih dahulu. Tetapi di daerah kosku ini air ledengnya terlalu banyak kaporit. Saya sih tidak merasakannya ya, tetapi teman kos saya tahu kalau airnya banyak kaporit. Muka dia jadi pecah-pecah gitu kalau cuci muka pakai air ledengnya, jadi dia kadang-kadang pakai air aqua buat cuci muka. Sejak pemalsuan air aqua itu, saya jadi sering sakit perut. Tidur agak malam saja langsung diare, padahal dulu menulis laporan sampai dini hari pun tak apa-apa.

Akhirnya kami tidak tahan dengan perbuatan keji si oma ini. Salah dua teman kos saya menemui dia mengenai masalah air aqua made in air ledeng ini. Si oma memberi alasan bahwa dia mengalami kerugian jika harus menyediakan air aqua bagi kita. Rugi? Masa sih? Bayangkan, 9 kamar kos disewakan dengan harga 1,3 juta perbulan. Jika membawa kendaraan, harus menambah bayaran lagi. Masa tidak cukup? Biarlah, saya memang tidak tahu neraca keuangan dia. Tetapi bisa dilihat tingkat kemakmurannya dari gaya hidupnya. Staffnya lebih dari lima orang. Ada yang bertugas masak, berkebun, menjaga keamanan, bersih-bersih, menyupiri, dan menjaga si anak-anak. Tamannya luas dan penuh tanaman-tanaman mahal seperti anggrek. Mobilnya sekitar tiga atau empat dan salah duanya adalah Toyota Innova dan Honda CRV. Sang putra katanya seorang pengusaha bar dan cafe yang lumayan sukses. Cucu lelakinya sekolah di sekolah yang berbahasa inggris. Rugi? Sepertinya tidak. Kalau dia merasa rugi, mengapa tidak mau menyewakan kos lagi? Aneh kan.

Sejak dilabrak oleh teman-teman kos tentang aqua ledeng itu, si oma kembali menyediakan aqua asli. Tapi itu hanya sesaat. Tak lama kemudian kembali lagi ke aqua palsu. Kali ini dia lebih pintar, bukannya mengisi dengan air ledeng di rumah, tetapi mengisi di tempat pengisian ulang galon aqua. Memang sih yang ini tidak membuat saya sakit perut, tetapi jelas dia berbohong. Tak pernah terbayangkan seorang oma-oma yang sudah hidup mapan memiliki sifat yang licik seperti ini.

Setelah pengumuman kenaikan uang kos yang ketiga kali, akhirnya teman-teman kosku yang masih junior tidak tahan. Mereka semua minggat dari kos menuju tempat kos lain. Akhirnya hanya tersisa kami yang sudah angkatan 2005 dan 2004. Kami mau pindah juga tanggung, sebentar lagi lulus. Akhirnya kami tetap tinggal di kos ini dengan mesra, cuma berduaan (wakakaka…. jijik).

Saya benar-benar tidak mengerti tindakan si oma ini. Mengapa harus begitu sih caranya? Kalau memang sudah ingin cepat-cepat merubah tempat kos jadi hunian pribadi yang nyaman, ya bilang saja ke kami. Bisa kan membicarakan baik-baik, lalu memberi tenggang waktu untuk kami mencari kos baru? Tinggal bilang saja,  “Nak, saya sudah tidak bisa menyewakan kamar kos lagi. Sekitar 2-3 bulan kalian harus cari tempat kos yang baru ya.” Kalau diomongkan baik-baik begitu kan enak. Tidak perlu pakai uang kos naik terus dan meracuni anak kos pakai air tak layak minum. Mentang-mentang sudah tidak butuh kami, lalu mencari kesempatan. Uang kos dinaikan terus menerus. Kalau kami tetap bayar ya dia untung, kalau kami pergi dari kos ya dia juga senang.

Dari tadi saya menuduh si oma yang melakukan perbuatan-perbuatan licik itu karena memang dia yang mengurus sewa menyewa kos ini. Si opa sepertinya tidak ikut campur. Si oma ini memang hebat akal bulusnya. Segala kelicikannya itu bisa ditutupi oleh “casing” malaikat. Ayahku pun tidak percaya omonganku tentang si oma. Bagi dia si oma ini orang yang baik-baik. Saya sudah lama di kos ini dan tahu bahwa si oma ini tidak sebaik yang terlihat, setidaknya saya tahu dia bukanlah “employer” yang baik. Staff rumah tangganya sudah berkali-kali gonta-ganti terus, bahkan ada yang sudah keluar lalu masuk lagi. Kalau turn over rate-nya seperti ini, pasti ada apa-apanya. Saya mengetahui bahwa si oma ini galak terhadap staff-nya. Beberapa kali, sang penjaga kos bicara kepada saya ketika saya pulang malam. “Kalau pulang jangan malam-malam, not. Nanti kalau ada apa-apa saya dimarahi sama si ibu,” kata si penjaga kos. Selain itu saya pernah mendengar curhatan si bibi kos yang suka memasak. Sewaktu siang, saya mau mengambil nasi di dapur belakang (tempat si bibi memasak nasi) tetapi nasinya belum dimasak. Saya disuruh mengambil nasi ke dapurnya si oma oleh si bibi yang lain. Jadilah saya ke dapur si oma meminta nasi. Di situ ada si oma lagi masak. Saya diberikan nasinya sih, tidak ada apa-apa. Wajahnya tetap penuh senyuman. Kemudian malamnya saya mengambil nasi lagi ke dapur belakang. Si bibi yang suka memasak itu berkata, “Junot, kalau ga ada nasi di sini, kamu jangan minta ke si tante. Saya jadi dimarahi tuh. Tadi saya kena marah. Jangan lagi ya. Kalau di sini habis, bilang ke saya saja, nanti dimasakin.” Ketika si bibi berkata, saya bisa melihat betapa takutnya si bibi terhadap si oma ini. Gila, berarti si oma benar-benar employer yang kejam. Di luar saja terlihat orang yang baik dan ramah. Tapi di dalamnya, wuih, seluruh staff rumahnya takut banget sama dia.

Sebentar lagi saya sudah mau minggat dari kos nih. Kuliah sudah selesai, wisuda sebentar lagi. Kasihan teman saya masih belum menemukan kos baru. Dia masih kuliah sampai tahun depan. Saya tidak dapat membayangkan, apalagi yang akan dilakukan si oma supaya teman saya ini cepat pindah. Kalau saya sudah pindah, tentu si oma makin gencar mengusir penghuni kosnya karena usahanya berarti sudah mencapai 90%. Kasihan temanku ini, nanti berjuang sendirian setelah saya pergi. Semangat, Bung!

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s