Demokrasi Indonesiaku Tercinta (Bagian 2)


Di kemudian hari, muncul kembali pengumuman dari Gedung Kura: “Harga minyak dinaikkan 10%.” Joko, Acong, dan Sitorus kembali tercengang. Mereka jadi semakin harus mengurangi keperluan dan tabungannya demi bisa membeli minyak. Mengalami ini, Sitorus pun tidak tahan. Ia mencoba untuk menghubungi Sujono.

Sitorus mencoba menelepon Sujono, tetapi selalu yang mengangkat adalah sekretarisnya. “Maaf, Bapak. Pak Sujono sedang meeting,” begitu jawaban sang sekretaris. Sitorus pun tidak menyerah, ia mengunjungi Gedung Kura-kura. Namun di depan gerbang gedung itu, ia dihadang penjaga gerbang, “Mau kemana, Pak? Cari siapa?”

“Cari Pak Sujono.”

“Pak Sujono sedang sibuk, Pak. Tidak bisa dihubungi.” Sitorus pun kembali ke rumahnya, masih banyak berkas ulangan yang harus ia koreksi.

Kembali di suatu pagi, pengumuman dari Gedung Kura-kura: “Gaji pegawai Gedung Kura-kura dinaikkan 10%, tunjangan 20%.” Joko yang melihat ini tidak sabar lagi, ia memanggil kedua kawannya, Acong dan Sitorus. Mereka memutuskan untuk ramai-ramai menemui Sujono di Gedung Kura-kura.

Sampai di depan gerbang Gedung Kura-kura, mereka didatangi pengawal gerbang, “Bapak-bapak, mau cari siapa?”

“Pak Sujono”

“Pak Sujono sedang sibuk, tidak bisa dihubungi.” Sesaat kemudian, sosok Sujono muncul dari dalam gedung sedang menyalami seseorang. Sujono kemudian masuk kembali ke dalam gedung dengan membawa satu koper dari orang tersebut. Joko, Acong, dan Sitorus pun berteriak-teriak untuk menarik perhatian Sujono, tetapi teriakan mereka tidak didengar. Orang yang baru saja bertemu Sujono itu kemudian pergi  keluar melewati gerbang. Acong melihat orang itu membawa berkas-berkas surat yang berjudul “Izin Pembangunan Mal” dengan cap “Disetujui”.

Joko, Acong, dan Sitorus akhirnya pulang menyusun strategi. Keesokan harinya, mereka kembali mendatangi Gedung Kura-kura. Kali ini mereka membawa papan-papan yang bertuliskan, “TURUNKAN HARGA MAKANAN”, “PERHATIKAN NASIB GURU”, “SISIHKAN ANGGARAN UNTUK RAKYAT”. Tulisan-tulisan itu adalah tak lain tulisan yang ditorehkan di sehelai kertas yang dibawa Sujono ke dalam Gedung Kura-kura. Joko, Acong, dan Sitorus berusaha mengingatkan Sujono kembali akan keinginan mereka di kertas itu. Mereka berjalan berputar-putar di depan gerbang, berteriak-teriak, “DENGARKAN SUARA KAMI!”

Sujono dari dalam gedung, mengintip keluar karena kegaduhan mereka. Setelah beberapa lama kemudian, pengawal-pengawal Gedung Kura-kura bermunculan dan mengusir Joko, Acong, dan Sitorus. Mereka didorong-dorong secara paksa, dipukul, dan ditendang. Akhirnya mereka pun memutuskan pulang dengan luka-lukanya.

Setelah kejadian itu, Joko, Acong, dan Sitorus kembali ke kesibukannya masing-masing. Mereka sudah tidak perduli lagi dengan Sujono dan pengumuman Gedung Kura-kura. Bagi mereka, Sujono sudah mati.

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s