Apakah itu Daylight Saving?


Sudah pernah dengar istilah daylight saving? Mungkin Anda pernah membaca istilah ini di setting jam digital Anda, atau setting jam di komputer, dan bingung apa ini maksudnya daylight saving? Mengapa kalau diaktifkan jamnya jadi maju satu jam? Tak perlu bingung, begini lho ceritanya…

Prinsip Daylight Saving

Daylight saving, sesuai namanya, adalah “menabung” sinar matahari dengan cara memajukan jam kita satu jam ke depan, dan biasa dilakukan ketika musim panas (di negara 4 musim). Negara yang memiliki 4 musim mengalami siang yang lebih panjang ketika musim panas, lain halnya dengan negara di daerah khatulistiwa yang panjang siang malamnya selalu konstan sepanjang tahun.

Gambar di atas mengilustrasikan siang hari yang lebih panjang daripada malam ketika musim panas. Normalnya, kita beraktivitas mulai pukul 6 pagi dan selesai pukul 6 sore. Ketika musim semi/gugur, rutinitas ini sesuai dengan lamanya siang hari. Kita jadi beraktivitas selama matahari bersinar. Namun ketika musim panas, matahari terbit lebih cepat dan terbenam lebih lama. Jadi ada sinar matahari yang tidak kita “nikmati” atau manfaatkan pada musim panas, karena kita mulai bangun pagi pukul 6 sedangkan matahari sudah terbit sebelum kita bangun pagi.

Dengan daylight saving, kita majukan waktu 1 jam ke depan sehingga dapat diilustrasikan seperti berikut:

Dengan adanya daylight saving, kita jadi mulai beraktivitas pada jam yang sama (jam 6), tetapi ketika matahari terbit. Seusai beraktivitas kira-kira pukul 6 sore, hari masih terang karena kita sudah “tabung” dengan cara bangun 1 jam lebih pagi. Jadi kita bisa menikmati semua sinar matahari setiap hari. Maka itulah disebut Daylight Saving, atau “Tabungan Cahaya Hari (matahari)”.

Manfaat utama dari daylight saving ini adalah untuk penghematan penggunaan listrik di musim panas. Dengan daylight saving, kita jadi menggunakan lampu lebih sebentar daripada tanpa daylight saving. Misalkan pada gambar kiri di atas matahari terbenam pk 19:00. Kita jadi menyalakan lampu dari pk 19:00 hingga pk 22:00 (anggap kita tidur pk 22:00), berarti 3 jam kita mengkonsumsi listrik. Dengan daylight saving, kita menyalakan lampu dari pk 20:00 hingga pk 22:00, lebih hemat 1 jam. Selain itu, dengan adanya “extra” sinar matahari seusai kita beraktivitas, kita jadi bisa melakukan hal-hal lain seperti berolahraga atau jalan-jalan santai di luar rumah sehingga lebih menyehatkan.

Mekanisme Transisi Daylight Saving

Lalu, bagaimana cara memajukan jam ini dan mengembalikannya lagi ketika musim panas berakhir? Jawabnya adalah lihat saja di belakang jam, ada sekrup yang bisa diputar, jadi bisa memajukan dan memundurkan jam (bercanda, hehehehhe). Gini-gini: Jadi diumumkan oleh pemerintah atau media setempat kapan kita harus memajukan jam atau memundurkan jam. Maka itu semua orang mengubah jamnya bersamaan secara serentak.

Perubahan jam dilakukan pada tengah malam. Jadi misalkan diumumkan tanggal 26 Oktober dimulai daylight saving. Ini berarti, ketika pk 00:00 tanggal 26 Oktober, jam dimajukan satu jam jadi pk 01:00 (berarti tidak ada lagi pk 00:00 – pk 00:59 pada tanggal 26 Oktober).

Lalu kita harus bangun tengah malam dong untuk mengubah jam? Ya tidak lah. Tinggal ketika bangun pagi saja kita mengubah jam, atau ketika sebelum tidur kemarin malam. Lagipula, jam-jam digital, jam di handphone, dan jam di komputer sudah memiliki setting daylight saving otomatis. Jadi kita tidak perlu mengubahnya sendiri.

Transisi daylight saving ini selalu dilakukan pada hari Minggu, supaya tidak mengganggu pekerjaan. Jadi kalau ada yang lupa mengubah jamnya, tidak akan berdampak pada aktivitas atau pekerjaannya (semoga saja dia sadar bahwa sudah daylight saving sebelum hari Senin tiba).

Transisi dari daylight saving ke waktu normal juga mirip ketika mengubah ke daylight saving. Jam diubah pk 00:00 pada hari Minggu sesuai pengumuman.

Asal-usul Daylight Saving

Daylight saving seringkali diidentikan dengan Benjamin Franklin. Negarawan dan inventor Amerika Serikat ini sering dikatakan sebagai pencetus daylight saving. Memang dia pernah membuat tulisan tentang menghemat penggunaan lilin dengan bangun tidur lebih awal, tetapi ide tersebut tidak selanjutnya diterapkan menjadi daylight saving. Daylight saving sebenarnya diajukan oleh seorang entomologi dari New Zealand, George Vernon Hudson (wikipedia).

Negara kita tidak pernah dan tidak perlu menerapkan daylight saving karena panjang siang harinya selalu sama sepanjang tahun. Daylight saving hanya digunakan oleh negara-negara berlatitude besar (jauh dari khatulistiwa). Walaupun tujuan awal sistem ini adalah untuk menghemat energi (listrik), tetapi ternyata banyak hasil penelitian yang menunjukkan tidak ada penurunan konsumsi listrik. Yang terjadi malah peningkatan konsumsi bahan bakar kendaraan karena orang jadi lebih banyak beraktivitas di luar.

Jadi, apa Anda sudah mengerti apa itu daylight saving? Kalau masih bingung, silahkan tinggalkan pertanyaan di comment. ^^

 

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Apakah itu Daylight Saving?

  1. Rani says:

    Maaf, penasaran. Berarti pas hari diumumkan itu, artinya sehari itu bukan 24 jam, ya? Tapi 23 jam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s