Efek Samping Ospek


Ah, ospek… Ingat ospek pasti ingat waktu sekolah atau kuliah dulu. Beda orang, beda sikapnya terhadap yang namanya ospek; ada yang suka, ada yang tidak suka. Yang pasti, ospek bisa memberikan kita cerita-cerita lucu di kemudian hari. Namun, ospek juga memberikan efek negatif bagi kita. Efek itu kemungkinan bukan hanya rasa trauma atau kesal, tetapi juga hal-hal lain yang mungkin tidak kita sadari.

“Ini nih yang katanya kompak?! Mana suaranya!?”

Ospek itu budaya sosialisasi instant. Ketika ospek, kita pasti disuruh atau “dipaksa” untuk berkenalan dengan seluruh teman se-angkatan. Entah itu dengan mengkoleksi biodata dan tanda tangan atau lainnya. Kita dipaksa untuk bisa kenal dan dekat dengan semua teman kita dalam waktu yang sangat singkat.

Menurutku ini tidak sehat untuk pengembangan social skill kita. Untuk berkenalan saja masa kita harus ditekan dahulu, dipaksa, dan diancam. Jika kita terbiasa dipaksa untuk berkenalan, bagaimana nanti di dunia nyata? Tidak ada yang akan memaksa kita untuk berteman dengan orang yang baru kita kenal. Tetapi kita harus bisa memulai pergaulan, apalagi di dunia kerja.

Remaja kita sudah terbiasa diospek, sejak SMA mereka sudah mengalami ospek, bahkan ada yang sejak SMP. Ketika berganti jenjang (SMP ke SMA atau SMA ke universitas), biasanya kita akan berada di lingkungan baru. Tempat baru, orang-orang yang baru, semuanya belum kita kenal. Di saat inilah kita berkesempatan untuk “latihan” berkenalan, memulai pergaulan baru secara normal. Tetapi kesempatan ini kemudian dihancurkan oleh ospek. Cara kita berkenalan tidak lagi normal, kita berkenalan karena terpaksa, karena kalau tidak kita dihukum, kalau tidak kita dimarahi, kalau tidak kita disuruh push-up.

“Dulu senior kita tuh lebih ganas dari kita!!! Ini mah ga ada apa-apanya!!!”

Ospek itu budaya balas dendam. Yang pasti ini sudah menjadi rahasia umum: kita mengospek junior kita karena dulu kita diospek senior kita. Tetapi para pengospek-pengospek, atau tim “grand design” ospek pasti membantah, “Ini bertujuan untuk melatih mental penerus kita. Anak jaman sekarang terlalu lembek. Tujuan kita suci, mengkader penerus kita agar jadi angkatan yang hebat.”

Mau apapun alasannya, intinya mereka mengintimidasi orang lain. Kegiatan seperti ospek memang bisa menguatkan mental, seperti pada tentara. Tapi tahukah para senior-senior itu seberapa keras mereka harus mengintimidasi? Apakah mereka pernah belajar “psikologi peng-ospek-an”? Yang kuliah psikologi saja belum tentu tahu harus seberapa keras mereka mengospek. Jadinya malah senior sesuka hati mengintimidasi juniornya, yang penting hati senang bisa membalas dendam satu tahun yang lalu.

Tahukah efek balas dendam ini ke mana? Pernah mengurus SIM? paspor? atau surat-surat lainnya di kantor pemerintah? Kabar burung bilang sih “uang-uang rokok” yang kita berikan itu tidak masuk kantong si penerima, tapi disetor ke atasannya, dan atasannya setor ke atasannya lagi, lalu ke atasannya lagi, dan seterusnya. Nanti ketika bawahannya naik pangkat, gantian deh yang terima setoran siapa. Mengerti kan maksudku? Hehehe…

“1. Senior tak pernah salah. 2. Kalau senior salah, lihat peraturan nomor 1.”

Satu lagi adalah ospek itu budaya ABS (Asal Bapak Senang). Selama ospek kita pasti harus turut semua kata senior. Tidak ada istilah senior yang salah, senior pasti benar sesuai “hukum rimba ospek”. Jadinya apa? Kita mengerjakan apapun yang disuruh. Untuk apa sih? Supaya senior senang, atau minimal senior tidak marah.

Efeknya kita jadi tidak biasa mengritik senior atau atasan kita. Walaupun mereka salah, kita tidak berani atu tidak biasa mengeluarkan kritik, mereka juga tidak terbiasa menerima kritik dari juniornya.  Inilah yang terjadi di organisasi-organisasi yang kita tahu sangat korup. Hampir semua orang di situ melakukan KKN, tidak ada yang berani mengubah budaya itu. Yang tua-tua sudah terbiasa KKN, yang muda-muda masih idealis tapi tak berani mengkritik yang tua. Akhirnya yang muda ngikut saja, asal bapak senang deh.

So What?

Jadi kita sebenarnya butuh ga sih yang namanya ospek? Ada yang bilang lumayan berguna biar cepat akrab dengan teman. Tapi apa baiknya sih berteman dengan terpaksa, apalagi terburu-buru? Sama seperti orang pacaran, kalau terburu-buru jadinya gampang putus. Ada juga yang bilang lumayan untuk cerita lucu di hari tua. Apakah cerita itu worthed dengan efek budaya balas dendam dan ABS-nya? Kalau kita lihat di negara-negara maju, tidak ada yang namanya ospek-ospekan (ada sih mungkin, tetapi hanya di asrama). Jadi apakah sebenarnya budaya ospek ini berguna buat kita? Atau hanya menghambat kita untuk maju? Think again.

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in Sekedar Cerita and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Efek Samping Ospek

  1. inezrabz says:

    Akhirnya ada juga post loe yang bisa gw baca. Hehehe..

    Ospek itu guna, selama aturan “1. senior tidak pernah salah, dan 2. kalau senior salah, liat peraturan nomor 1” ga berlaku. Hehehe..

  2. ALFI says:

    orientasi? komunikatif? nomatif? akademis?
    apa benar membebankan MaBa dengan serba-serbi yang terlihat tolol itu sebagai bentuk pengenalan?
    gue rasa semua orang sudah jauh terlebih dulu melewati masa2 semacam MOS sebelum menduduki bangku perkuliahan. OSPEK adalah pembodohan diluar akademis! SETIAP MAHASISWA TELAH MEMBAYAR MAHAL dengan tujuan u/ MENDAPATKAN ILMU DAN GELAR!
    jadi terlihat jelas, ospek hanyalah ajang EKSISTENSI & BALAS DENDAM bagi sebagian senior…!!!
    Gue sebagai seniorpun gak akan pernah mengiyakan hal2 semacam itu apalagi di BANGKU PERKULIAHAN!!! Kita manusia, dibekali otak, apalagi setelah 9 TAHUN sebelumnya BERSEKOLAH!!!
    gambar diatas baru contoh kecil. BETAPA TERLIHAT BODOHNYA SESEORANG DIBAWAH PENGAWASAN SENIOR!
    CARA YG TEPAT ADALAH: SEMINAR DENGAN MENGGANDENG PARA MABA U/ AKTIF DALAM DISKUSI KAMPUS. (BERSIFAT MENGGANDENG*KEKELUARGAAN). Contoh diatas jelas tidak menggandeng bukan? Karena jelas ada gate yang mengharuskan maba mengikuti apa yang diperintahkan senior!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s