The EE HandBlog: Electrical Authorization


Kemarin ini baru saja ikut training mengenai “Electrical Authorization” oleh Apave. Jadi training ini intinya adalah suatu “assessment” tentang sejauh apa otoritas kita sebagai engineer bisa bekerja dengan panel/perangkat listrik. Untuk menentukan otoritas pekerjaan, dibuatlah tipe-tipe pekerja dengan level otoritasnya masing-masing:

untitled

B0/H0: Contoh pekerja tipe ini adalah pekerja-pekerja non-electrical. Dengan level B0 dan H0, mereka tidak boleh bekerja langsung dengan perangkat/panel listrik, hanya boleh mengamati dari jarak tertentu (atau disebut juga “zona investigasi”).

B1/H1 – B1V/H1V: Level ini mengijinkan pekerjaan (seperti wiring dan instalasi) dengan perangkat/panel listrik (dalam keadaan mati/tanpa listrik), tetapi pekerjaan harus dilakukan di bawah supervisi pekerja B2/H2. Untuk bekerja dengan perangkat yang sedang menyala, level yang dimiliki haruslah B1V/H1V.

B2/H2 – B2V/H2V: Seperti yang telah disebutkan, level ini adalah untuk pekerjaan supervisi B1/H1. Untuk pekerjaan menyangkut perangkat yang menyala, diperlukan B2V/H2V. Selain untuk supervisi, level ini juga berlaku sebagai B1/H1 – B1V/H1V. Jadi pekerja level ini bisa melakukan pekerjaan listrik sendiri tanpa supervisi.

Test B2V/H2V: Dengan tambahan atribut Test, level ini bisa melakukan “test” atau menguji hasil pekerjaan B1/H1 – B1V/H1V.

BC/HC: Level ini diperuntukkan untuk pekerja yang melakukan “lockout”. Bagi yang belum tahu, lockout adalah pekerjaan mengisolasi suatu perangkat/panel listrik dari arus listrik sehingga tidak ada arus listrik atau “live parts” pada perangkat/panel tersebut. Biasanya lockout dilakukan dengan mematikan circuit breaker incoming dan menguncinya/menggemboknya bersama tag.

BS – BR: Level ini biasa digunakan oleh pekerja electrical maintenance. Pekerjaan yang dilakukan umumnya adalah reparasi dan corrective maintenance. Untuk BS, pekerjaan yang diijinkan adalah pada perangkat listrik biasa/domestik seperti stop kontak, switch, dan lampu. Sedangkan BR, bisa bekerja pada perangkat listrik lainnya (seperti panel listrik dan motor), tentunya dengan tegangan rendah. Selain otoritas untuk repair, level ini juga memiliki otoritas untuk lockout (BC). Jadi dalam melakukan reparasi, dia bisa me-lockout perangkatnya sendiri.

BE/HE + attribute: Level ini biasa diperuntukkan bagi operation manager. Pekerjaan yang boleh dilakukan tergantung dari attribute yang diberikan. Ada 4 jenis attribute: Check, Action, Measurement, dan Test.

  • Check: melakukan inspeksi pada instalasi perangkat listrik
  • Action: menyalakan/start-up perangkat/plant
  • Measurement: melakukan pengukuran
  • Test: melakukan test/pengujian

Dengan pembagian level otoritas seperti di atas, kita jadi bisa membatasi pekerjaan dan wewenang dalam pekerjaan listrik. Tujuan utamanya adalah agar pekerjaan dilakukan dengan aman karena orang yang melakukan pekerjaan sudah tahu batas-batasan pekerjaan masing-masing. Tetapi ingat, dengan adanya level otoritas ini bukan berarti kita sudah bisa langsung bekerja. Pekerjaan tetap memerlukan approval dari atasan/client kita.   

About Junot D. Ojong

Author is a control systems engineer at a private company in Jakarta.
This entry was posted in teknik and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to The EE HandBlog: Electrical Authorization

  1. Pingback: The EE HandBlog: Environment Zone Distances | Akirajunto's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s